FIQIH SAFAR HAJI: SUNNAH-SUNNAH NABI ﷺ DARI MENINGGALKAN RUMAH HINGGA TIBA DI KOTA TUJUAN
FIQIH SAFAR HAJI: SUNNAH-SUNNAH NABI ﷺ DARI MENINGGALKAN RUMAH HINGGA TIBA DI KOTA TUJUAN

Safar haji bukan perjalanan biasa. Ia bukan sekadar perjalanan dari rumah menuju bandara, lalu dari bandara menuju Tanah Suci. Safar haji adalah perjalanan ibadah. Perjalanan yang dimulai sejak seseorang keluar dari rumahnya dengan niat memenuhi panggilan Allah.
Karena itu, seorang calon jamaah haji perlu memahami bahwa persiapan safar tidak hanya berkaitan dengan koper, paspor, visa, tiket, hotel, transportasi, dan perlengkapan kesehatan. Semua itu penting. Tetapi ada persiapan yang lebih mendasar: persiapan ilmu, niat, adab, dan ibadah selama perjalanan.
Islam adalah agama yang sempurna. Bahkan dalam urusan safar, Rasulullah ﷺ telah mengajarkan adab, doa, hukum-hukum, dan bimbingan yang sangat indah. Seorang Muslim tidak dibiarkan berjalan tanpa arah. Dari sebelum keluar rumah, saat naik kendaraan, ketika berada di perjalanan, hingga tiba di tujuan, semuanya memiliki tuntunan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
Transliterasi:
Wa tazawwaduu fa inna khairaz-zaadit-taqwaa.
Artinya:
“Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
QS. Al-Baqarah: 197.
Ayat ini sangat relevan untuk jamaah haji. Bekal terbaik bukan hanya uang, pakaian, obat, dan perlengkapan perjalanan. Bekal terbaik adalah takwa: ilmu yang benar, niat yang ikhlas, hati yang tunduk, dan kesungguhan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
-
Meluruskan Niat Sebelum Berangkat
Sebelum safar haji dimulai, hal pertama yang harus dibenahi adalah niat.
Haji bukan perjalanan wisata religi. Haji bukan perjalanan status sosial. Haji bukan ajang pencitraan. Haji adalah ibadah agung yang harus dilakukan karena Allah semata.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
Transliterasi:
Wa atimmul-hajja wal-‘umrata lillaah.
Artinya:
“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.”
QS. Al-Baqarah: 196.
Kalimat لِلَّهِ — lillaah menjadi pondasi besar. Haji harus karena Allah. Bukan karena ingin dipuji. Bukan karena ingin dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Haji”. Bukan karena tekanan keluarga. Bukan karena gengsi sosial.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Transliterasi:
Innamal-a’maalu bin-niyyaat, wa innamaa likullimri-in maa nawaa.
Artinya:
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
HR. Bukhari dan Muslim.
Maka, sebelum koper ditutup, hati harus lebih dahulu diperiksa. Sebelum paspor disiapkan, niat harus lebih dahulu diluruskan. Karena perjalanan haji yang paling berharga bukan hanya yang sampai ke Makkah, tetapi yang diterima oleh Allah.
-
Bertaubat dan Menyelesaikan Hak-Hak Manusia
Salah satu persiapan besar sebelum safar haji adalah memperbanyak taubat dan menyelesaikan hak-hak manusia semampunya.
Jika ada utang, maka hendaknya dicatat, dibayar jika sudah mampu, atau dijelaskan kepada ahli waris dan pihak terkait. Jika pernah menzalimi orang lain, hendaknya meminta maaf. Jika ada amanah yang belum diselesaikan, hendaknya diselesaikan sebelum berangkat.
Ini bukan berarti seseorang harus menjadi manusia tanpa dosa sebelum berhaji. Tidak. Justru haji adalah kesempatan besar untuk bertaubat. Tetapi bagian dari keseriusan taubat adalah memperbaiki urusan dengan Allah dan memperbaiki urusan dengan manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ
Transliterasi:
Man kaanat lahu mazhlamatun li-ahadin min ‘irdhihi aw syai-in falyatahallalhu minhul-yaum.
Artinya:
“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik terkait kehormatan atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta kehalalan darinya hari ini.”
HR. Bukhari.
Ini penting. Jangan sampai seseorang berangkat haji membawa koper yang rapi, tetapi membawa kezaliman yang belum diselesaikan. Jangan sampai seseorang ingin Allah ampuni dosanya, tetapi ia masih menahan hak orang lain.
-
Memastikan Bekal dari Harta yang Halal
Safar haji membutuhkan biaya besar. Karena itu, seorang Muslim harus memperhatikan sumber hartanya.
Haji adalah ibadah kepada Allah. Tidak pantas ibadah yang mulia ini dibiayai dari harta yang haram, hasil penipuan, riba, korupsi, manipulasi, atau kezaliman terhadap orang lain.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ
Transliterasi:
Yaa ayyuhalladziina aamanuu kuluu min thayyibaati maa razaqnaakum.
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian.”
QS. Al-Baqarah: 172.
Bekal halal adalah bagian dari adab besar dalam ibadah. Seorang jamaah haji hendaknya tidak hanya bertanya, “Cukupkah uang saya untuk berangkat?” tetapi juga bertanya, “Apakah uang ini bersih dan halal?”
Karena tujuan haji bukan hanya sampai ke Tanah Suci, tetapi menghadap Allah dengan hati yang bersih dan amal yang berharap diterima.
-
Mempersiapkan Ilmu Sebelum Mempersiapkan Fisik
Banyak jamaah menyiapkan fisik sebelum haji, dan itu benar. Haji membutuhkan stamina. Tetapi ada yang lebih penting dari fisik: ilmu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
Transliterasi:
Khudzuu ‘annii manaasikakum.
Artinya:
“Ambillah dariku tata cara manasik kalian.”
HR. Muslim.
Hadits ini menjadi kaidah besar. Haji tidak cukup dilakukan dengan semangat. Haji harus dilakukan dengan ilmu.
Sebelum berangkat, jamaah perlu mengetahui:
- mana rukun haji,
- mana wajib haji,
- mana sunnah haji,
- apa saja larangan ihram,
- kapan mulai ihram,
- apa yang dilakukan di miqat,
- bagaimana thawaf,
- bagaimana sa’i,
- bagaimana wukuf,
- bagaimana mabit,
- bagaimana melontar jumrah,
- dan apa yang harus dilakukan jika terjadi kesalahan.
Banyak masalah di lapangan terjadi bukan karena jamaah tidak ingin beribadah, tetapi karena jamaah belum memahami ilmunya. Maka, belajar sebelum berangkat adalah bagian dari keseriusan ibadah.
-
Berpamitan dan Meminta Doa dengan Adab yang Baik
Sebelum safar, disunnahkan untuk berpamitan kepada keluarga, kerabat, dan orang-orang dekat dengan cara yang baik. Bukan berpamitan dengan ritual khusus yang tidak ada tuntunannya, tetapi berpamitan dengan doa, nasihat, dan adab yang mulia.
Di antara doa yang diajarkan ketika seseorang melepas saudaranya bepergian adalah:
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
Transliterasi:
Astaudi’ullaaha diinaka, wa amaanataka, wa khawaatiima ‘amalik.
Artinya:
“Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan penutup amalmu kepada Allah.”
HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dinilai shahih oleh para ulama.
Doa ini sangat indah. Yang pertama dititipkan bukan koper, bukan uang, bukan fasilitas, tetapi agama. Karena dalam safar, yang paling mahal bukan barang bawaan, tetapi keselamatan iman dan agama.
Orang yang hendak safar juga dapat mendoakan orang yang ditinggalkan. Dalam sebagian riwayat disebutkan doa:
أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
Transliterasi:
Astaudi’ukumullaahalladzii laa tadhii’u wadaa-i’uh.
Artinya:
“Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya.”
HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dinilai shahih oleh sebagian ulama.
Inilah adab safar dalam Islam. Ada kelembutan, ada doa, ada tawakkal, dan ada pengakuan bahwa penjagaan terbaik adalah penjagaan Allah.
-
Membaca Doa Keluar Rumah
Ketika keluar dari rumah, seorang Muslim disunnahkan membaca doa:
بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Transliterasi:
Bismillaah, tawakkaltu ‘alallaah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.
Artinya:
“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dinilai shahih oleh para ulama.
Doa ini pendek, tetapi maknanya besar. Seorang hamba keluar dari rumahnya dengan menyebut nama Allah, menyerahkan urusannya kepada Allah, dan mengakui bahwa ia tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Safar haji bisa penuh dinamika: jadwal berubah, penerbangan tertunda, antrean panjang, tubuh lelah, cuaca panas, kondisi lapangan padat, dan banyak hal di luar kendali manusia. Maka sejak langkah pertama keluar rumah, jamaah sudah diajarkan untuk bertawakkal.
-
Membaca Doa Naik Kendaraan dan Doa Safar
Ketika naik kendaraan, disunnahkan membaca doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Doa ini berlaku ketika menaiki kendaraan safar, baik kendaraan darat, laut, maupun udara.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَٰذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى
اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَٰذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ
اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Transliterasi:
Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar.
Subhaanalladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin, wa innaa ilaa Rabbinaa lamunqalibuun.
Allaahumma innaa nas-aluka fii safarinaa haadzal-birra wat-taqwaa, wa minal-‘amali maa tardhaa.
Allaahumma hawwin ‘alainaa safaranaa haadzaa, wathwi ‘annaa bu’dah.
Allaahumma Antash-shaahibu fis-safar, wal-khaliifatu fil-ahl.
Allaahumma innii a’uudzu bika min wa’tsaa-is-safar, wa ka-aabatil-manzhar, wa suu-il-munqalabi fil-maali wal-ahl.
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai.
Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya bagi kami.
Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan penjaga keluarga yang ditinggalkan.
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan safar, pemandangan yang menyedihkan, dan buruknya keadaan saat kembali pada harta dan keluarga.”
HR. Muslim.
Doa ini sangat lengkap. Di dalamnya ada pengagungan kepada Allah, pengakuan atas nikmat kendaraan, permohonan takwa, permohonan amal yang diridhai, kemudahan perjalanan, penjagaan keluarga, dan perlindungan dari kesulitan safar.
Ini menunjukkan bahwa safar dalam Islam bukan hanya berpindah tempat. Safar adalah momentum memperkuat hubungan dengan Allah.
-
Bertakbir Ketika Naik ke Tempat Tinggi dan Bertasbih Ketika Turun
Di antara sunnah ketika safar adalah bertakbir saat naik ke tempat yang tinggi dan bertasbih saat turun.
Dalam hadits disebutkan bahwa para sahabat ketika naik mereka bertakbir, dan ketika turun mereka bertasbih.
اللَّهُ أَكْبَرُ
Transliterasi:
Allaahu akbar.
Artinya:
“Allah Maha Besar.”
Dibaca ketika naik atau berada pada posisi meninggi.
سُبْحَانَ اللَّهِ
Transliterasi:
Subhaanallaah.
Artinya:
“Mahasuci Allah.”
Dibaca ketika turun.
Untuk konteks haji modern, sunnah ini bisa diamalkan ketika kendaraan melewati jalan menanjak atau menurun. Ini bukan perkara yang memberatkan, tetapi bentuk dzikir yang menghidupkan safar.
Perjalanan haji sering panjang dan melelahkan. Dzikir seperti ini menjaga hati agar tidak kosong dari mengingat Allah.
-
Tidak Melakukan Safar Sendirian Jika Tidak Ada Kebutuhan
Islam menganjurkan agar seseorang tidak melakukan safar sendirian tanpa kebutuhan. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tentang safar seorang diri.
Dalam hadits disebutkan:
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ، مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ
Transliterasi:
Law ya’lamun-naasu maa fil-wahdati maa a’lam, maa saara raakibun bilailin wahdah.
Artinya:
“Seandainya manusia mengetahui apa yang aku ketahui tentang bahaya sendirian, niscaya tidak ada seorang pengendara pun yang berjalan sendirian pada malam hari.”
HR. Bukhari.
Dalam safar haji, jamaah biasanya berangkat bersama rombongan. Ini selaras dengan adab safar. Bersama rombongan membuat perjalanan lebih aman, lebih terarah, lebih mudah saling membantu, dan lebih kecil risiko tersesat atau tertinggal.
Namun kebersamaan dalam safar juga membutuhkan akhlak. Jangan hanya ingin dibantu, tetapi enggan membantu. Jangan hanya menuntut fasilitas, tetapi tidak sabar menghadapi kondisi rombongan. Safar adalah ujian akhlak.
-
Mengangkat Pemimpin dalam Rombongan Safar
Jika bepergian dalam rombongan, disunnahkan untuk menunjuk seseorang sebagai pemimpin safar agar perjalanan tertib dan keputusan lebih jelas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ
Transliterasi:
Idzaa kharaja tsalaatsatun fii safarin fal yu-ammiruu ahadahum.
Artinya:
“Jika tiga orang keluar dalam safar, hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.”
HR. Abu Dawud, dinilai hasan oleh sebagian ulama.
Dalam konteks haji, ini sangat relevan. Rombongan perlu mengikuti arahan pembimbing, tour leader, muthawwif, dan petugas yang bertanggung jawab. Bukan karena mereka lebih mulia, tetapi karena safar tanpa kepemimpinan akan mudah kacau.
Khususnya dalam haji, satu orang yang tidak disiplin bisa berdampak kepada banyak orang: terlambat bus, tertinggal jadwal, menghambat rombongan, bahkan membahayakan dirinya sendiri.
Maka, bagian dari adab safar haji adalah tertib, disiplin, mudah diarahkan, dan tidak egois.
-
Memperbanyak Dzikir dan Doa Selama Perjalanan
Safar adalah waktu yang sangat baik untuk berdoa. Doa orang yang sedang safar termasuk doa yang memiliki kedudukan besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
Transliterasi:
Tsalaatsu da’awaatin mustajaabaatun laa syakka fiihinn: da’watul-mazhluum, wa da’watul-musaafir, wa da’watul-waalidi ‘alaa waladih.
Artinya:
“Tiga doa yang mustajab, tidak diragukan lagi: doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua terhadap anaknya.”
HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dinilai hasan oleh sebagian ulama.
Safar haji jangan hanya diisi dengan tidur, makan, berbicara, dan dokumentasi. Perbanyak doa. Perbanyak istighfar. Perbanyak dzikir. Perbanyak membaca Al-Qur’an.
Boleh berbincang dengan teman perjalanan. Boleh beristirahat. Boleh mengurus kebutuhan. Tetapi jangan sampai perjalanan menuju ibadah besar justru kosong dari mengingat Allah.
-
Menjaga Lisan dan Akhlak dalam Perjalanan
Safar haji sering menguji emosi. Antrean panjang, delay penerbangan, koper tertukar, makanan tidak sesuai selera, kamar tidak sesuai harapan, jalan jauh, cuaca panas, dan tubuh lelah. Semua ini bisa memancing keluhan dan kemarahan.
Tetapi justru di situlah nilai ibadah diuji.
Allah Ta’ala berfirman:
فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
Transliterasi:
Fa man faradha fiihinnal-hajja falaa rafatsa wa laa fusuuqa wa laa jidaala fil-hajj.
Artinya:
“Barang siapa menetapkan niatnya untuk berhaji pada bulan-bulan itu, maka tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat fasik, dan tidak boleh berbantah-bantahan dalam haji.”
QS. Al-Baqarah: 197.
Ayat ini harus menjadi pegangan jamaah haji. Jangan mudah bertengkar. Jangan kasar kepada petugas. Jangan merendahkan jamaah lain. Jangan membesar-besarkan kekurangan. Jangan menjadikan safar haji sebagai tempat melampiaskan ego.
Haji yang baik bukan hanya sah secara fiqih. Haji yang baik juga terlihat dari akhlak.
-
Memahami Keringanan Shalat bagi Musafir
Di antara rahmat Allah kepada musafir adalah adanya keringanan dalam shalat.
Seorang musafir disyariatkan untuk mengqashar shalat empat rakaat menjadi dua rakaat. Shalat yang diqashar adalah Dzuhur, Ashar, dan Isya. Adapun Subuh tetap dua rakaat dan Maghrib tetap tiga rakaat.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ
Transliterasi:
Wa idzaa dharabtum fil-ardhi falaisa ‘alaikum junaahun an taqshuruu minash-shalaah.
Artinya:
“Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kalian mengqashar shalat.”
QS. An-Nisa: 101.
Dalam safar, jamaah juga boleh menjamak shalat jika ada kebutuhan. Dzuhur bisa dijamak dengan Ashar, dan Maghrib bisa dijamak dengan Isya. Jamak bisa dilakukan di waktu pertama atau waktu kedua sesuai kebutuhan perjalanan.
Namun penting dipahami: keringanan ini bukan alasan untuk meremehkan shalat. Justru ini rahmat Allah agar shalat tetap terjaga meskipun dalam perjalanan.
Untuk jamaah haji, sangat penting mengikuti arahan pembimbing terkait jadwal shalat, karena kondisi perjalanan rombongan, penerbangan, imigrasi, bus, dan perpindahan kota bisa mempengaruhi teknis pelaksanaan shalat.
-
Tetap Menjaga Shalat Berjamaah Sesuai Kemampuan
Bagi laki-laki, shalat berjamaah memiliki kedudukan yang besar. Saat safar, jika memungkinkan, hendaknya tetap shalat berjamaah bersama rombongan atau di masjid.
Namun jika kondisi perjalanan tidak memungkinkan, seperti berada di pesawat, bus, antrean imigrasi, atau situasi padat yang menyulitkan, maka jamaah mengikuti kemampuan dan arahan pembimbing berdasarkan fiqih safar.
Kaedah pentingnya: jangan meninggalkan shalat.
Shalat tetap harus dijaga dalam keadaan apa pun. Jika bisa berdiri, shalat berdiri. Jika tidak mampu, maka sesuai kemampuan. Jika bisa menghadap kiblat, menghadap kiblat. Jika tidak mampu karena kondisi kendaraan, maka bertakwa kepada Allah semampunya.
Allah Ta’ala berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Transliterasi:
Fattaqullaaha mastatha’tum.
Artinya:
“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.”
QS. At-Taghabun: 16.
-
Memahami Sunnah Ketika Singgah di Suatu Tempat
Ketika singgah di suatu tempat, baik hotel transit, rest area, penginapan, atau tempat sementara, disunnahkan membaca doa perlindungan:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Transliterasi:
A’uudzu bikalimaatillaahit-taammaati min syarri maa khalaq.
Artinya:
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.”
HR. Muslim.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa siapa yang membaca doa ini ketika singgah di suatu tempat, maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya sampai ia meninggalkan tempat tersebut.
Ini adalah bentuk tauhid dan tawakkal. Seorang Muslim tidak menggantungkan keselamatan kepada jimat, benda tertentu, ritual tertentu, atau keyakinan yang tidak ada tuntunannya. Ia berlindung kepada Allah dengan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
-
Adab Tidur dan Istirahat Saat Safar
Dalam perjalanan panjang, jamaah membutuhkan istirahat. Islam tidak melarang seseorang menjaga stamina. Bahkan dalam haji, fisik yang kuat sangat membantu kelancaran ibadah.
Namun ketika tidur atau beristirahat, seorang Muslim tetap menjaga adab:
- membaca dzikir sebelum tidur,
- menjaga aurat,
- tidak mengganggu jamaah lain,
- menjaga barang bawaan,
- memperhatikan jadwal rombongan,
- dan tidak tidur sampai meninggalkan kewajiban shalat.
Safar haji bukan tempat untuk memaksakan diri tanpa istirahat, tetapi juga bukan tempat untuk lalai dari ibadah.
Keseimbangan sangat penting: tubuh dijaga agar ibadah kuat, hati dijaga agar tidak lalai, dan jadwal dijaga agar tidak merugikan rombongan.
-
Bagi Wanita: Memperhatikan Mahram, Hijab, dan Adab Safar
Dalam pembahasan fiqih safar, wanita memiliki beberapa ketentuan khusus. Di antaranya adalah pembahasan tentang safar bersama mahram.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
Transliterasi:
Laa tusaafiril-mar-atu illaa ma’a dzii mahram.
Artinya:
“Seorang wanita tidak boleh safar kecuali bersama mahram.”
HR. Bukhari dan Muslim.
Dalam masalah haji wanita bersama rombongan aman tanpa mahram, terdapat pembahasan dan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun yang lebih selamat dan lebih kuat secara kehati-hatian adalah seorang wanita berhaji bersama mahramnya jika mampu.
Selain itu, wanita hendaknya menjaga hijab, adab, rasa malu, dan kehormatan selama perjalanan. Kondisi safar kadang membuat seseorang lebih longgar dalam berpakaian atau berinteraksi. Padahal haji adalah ibadah besar yang seharusnya semakin memperkuat ketaatan.
-
Memahami Miqat dan Persiapan Ihram dalam Perjalanan Haji
Safar haji berbeda dengan safar biasa karena di dalamnya ada ketentuan ihram dan miqat. Jamaah tidak boleh melewati miqat dalam keadaan ingin haji atau umrah kecuali sudah berihram.
Karena itu, jamaah haji yang berangkat dengan pesawat harus memahami kapan ia akan melewati miqat. Biasanya pembimbing atau awak penerbangan akan mengumumkan menjelang miqat. Namun jamaah tetap perlu siap sebelumnya.
Bagi laki-laki, kain ihram sebaiknya sudah siap sebelum miqat. Bagi wanita, pakaian ihram adalah pakaian syar’i yang menutup aurat, bukan pakaian khusus dengan warna tertentu.
Ketika memulai ihram, jamaah berniat masuk ke dalam ibadah haji atau umrah sesuai jenis manasik yang dipilih: tamattu’, qiran, atau ifrad.
Setelah ihram, jamaah mulai memperbanyak talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ
Transliterasi:
Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal-hamda wan-ni’mata laka wal-mulk, laa syariika lak.
Artinya:
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”
HR. Bukhari dan Muslim.
Talbiyah ini adalah ruh perjalanan haji. Ia bukan sekadar bacaan. Ia adalah deklarasi tauhid.
-
Menjaga Kesabaran Ketika Tiba di Kota Tujuan
Ketika jamaah tiba di kota tujuan, baik Jeddah, Makkah, atau Madinah, biasanya tubuh sudah lelah. Di titik ini, banyak ujian akhlak muncul: antre imigrasi, menunggu bagasi, mencari bus, menunggu pembagian kamar, atau menyesuaikan diri dengan jadwal baru.
Seorang jamaah haji harus sadar bahwa kelelahan bukan alasan untuk kehilangan adab.
Haji adalah ibadah sabar. Dari awal sampai akhir, jamaah akan banyak diuji dengan hal-hal yang tidak selalu sesuai ekspektasi. Maka, saat tiba di tujuan, jagalah lisan. Ikuti arahan. Jangan tergesa-gesa. Jangan membuat keributan. Jangan membanding-bandingkan secara berlebihan. Jangan mudah menyalahkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ
Transliterasi:
Wa man yatashabbar yushabbirhullaah.
Artinya:
“Barang siapa berusaha sabar, Allah akan menjadikannya sabar.”
HR. Bukhari dan Muslim.
Kesabaran dalam safar bukan hanya akhlak sosial. Ia bagian dari ibadah.
-
Ketika Singgah di Hotel atau Tempat Menginap
Saat tiba di hotel atau penginapan, jangan lupa membaca doa singgah:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Transliterasi:
A’uudzu bikalimaatillaahit-taammaati min syarri maa khalaq.
Artinya:
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.”
HR. Muslim.
Kemudian, jamaah hendaknya memperhatikan beberapa adab:
- memastikan waktu shalat,
- mengenali lokasi kamar dan titik kumpul,
- memperhatikan arahan pembimbing,
- menjaga kebersihan kamar,
- tidak mengganggu teman sekamar,
- tidak berlebihan menggunakan fasilitas,
- dan mempersiapkan diri untuk agenda ibadah berikutnya.
Bagi jamaah haji, tiba di hotel bukan berarti selesai. Justru itu awal dari rangkaian ibadah yang lebih besar. Maka, gunakan waktu istirahat dengan bijak.
-
Jika Tiba di Makkah: Menjaga Fokus Sebelum Memulai Manasik
Jika tujuan pertama adalah Makkah dan jamaah dalam keadaan ihram untuk umrah atau haji, maka ia perlu menjaga larangan ihram dan mengikuti arahan pembimbing untuk pelaksanaan thawaf, sa’i, dan tahallul sesuai jenis manasiknya.
Jangan terburu-buru. Jangan memisahkan diri dari rombongan tanpa izin. Jangan memaksakan diri mencium Hajar Aswad jika berbahaya atau menyakiti jamaah lain.
Mencium Hajar Aswad adalah sunnah jika mampu tanpa menyakiti. Tetapi menyakiti Muslim lain adalah haram. Maka jangan mengejar sunnah dengan cara melakukan pelanggaran.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Hajar Aswad:
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
Transliterasi:
Innii a’lamu annaka hajar, laa tadhurru wa laa tanfa’, wa lawlaa annii ra-aitun-Nabiyya ﷺ yuqabbiluka maa qabbaltuk.
Artinya:
“Aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu. Engkau tidak dapat memberi mudharat dan tidak pula memberi manfaat. Kalau bukan karena aku melihat Nabi ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”
HR. Bukhari dan Muslim.
Ini penting untuk menjaga tauhid dan adab. Haji dan umrah bukan tentang emosi ritual tanpa ilmu. Semuanya harus mengikuti tuntunan.
-
Jika Tiba di Madinah: Menjaga Adab terhadap Masjid Nabawi
Jika tujuan pertama adalah Madinah, maka jamaah hendaknya menjaga adab ketika memasuki Masjid Nabawi. Masjid Nabawi adalah masjid yang sangat mulia, tetapi tetap harus dipahami dengan aqidah yang benar.
Jamaah disyariatkan memperbanyak shalat di Masjid Nabawi karena keutamaannya. Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَٰذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
Transliterasi:
Shalaatun fii masjidii haadzaa khairun min alfi shalaatin fiimaa siwaahu illal-Masjidal-Haraam.
Artinya:
“Satu shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”
HR. Bukhari dan Muslim.
Namun penting dipahami: ketika berziarah ke Masjid Nabawi dan makam Nabi ﷺ, seorang Muslim tetap menjaga tauhid. Tidak boleh berdoa kepada Nabi ﷺ. Tidak boleh meminta hajat kepada beliau. Doa hanya kepada Allah.
Seorang Muslim mencintai Nabi ﷺ, mengikuti sunnahnya, bershalawat kepadanya, dan mengucapkan salam ketika berziarah. Tetapi ibadah, doa, isti’anah, dan permohonan gaib hanya ditujukan kepada Allah.
-
Jangan Menjadikan Safar Haji sebagai Ajang Keluhan
Salah satu ujian terbesar dalam safar haji adalah ekspektasi. Jamaah sering membayangkan semua berjalan ideal. Padahal haji adalah perjalanan yang melibatkan jutaan manusia, banyak sistem, banyak perpindahan, banyak antrean, dan banyak kondisi yang bisa berubah.
Maka, jamaah perlu membedakan antara menyampaikan masalah dengan adab dan mengeluh tanpa kendali.
Jika ada masalah, sampaikan kepada petugas dengan tenang. Jika ada kekurangan, komunikasikan dengan baik. Jika ada kebutuhan, minta bantuan dengan adab. Tetapi jangan menjadikan perjalanan ibadah sebagai panggung kemarahan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Transliterasi:
Wa quuluu lin-naasi husnaa.
Artinya:
“Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.”
QS. Al-Baqarah: 83.
Safar haji akan memperlihatkan siapa diri kita ketika lelah, lapar, panas, tertunda, dan tidak nyaman. Di situlah akhlak diuji.
-
Ringkasan Checklist Sunnah Safar Haji
Sebelum berangkat, jamaah hendaknya:
- meluruskan niat karena Allah,
- bertaubat dan memperbanyak istighfar,
- menyelesaikan hak-hak manusia semampunya,
- memastikan bekal dari harta halal,
- belajar manasik dan fiqih safar,
- berpamitan dengan doa yang baik,
- menyiapkan diri untuk shalat safar.
Saat keluar rumah:
- membaca doa keluar rumah,
- bertawakkal kepada Allah,
- menjaga hati dari kegelisahan berlebihan.
Saat naik kendaraan:
- membaca doa naik kendaraan dan doa safar,
- memperbanyak dzikir,
- bertakbir saat naik dan bertasbih saat turun jika melewati kondisi tersebut.
Saat dalam perjalanan:
- menjaga shalat dengan jamak dan qashar sesuai kebutuhan,
- menjaga lisan,
- tidak banyak berdebat,
- mematuhi pemimpin rombongan,
- membantu sesama jamaah,
- memperbanyak doa karena doa musafir memiliki kedudukan besar.
Saat singgah:
- membaca doa singgah,
- menjaga adab terhadap teman sekamar dan rombongan,
- memperhatikan jadwal ibadah.
Saat tiba di kota tujuan:
- tetap sabar,
- mengikuti arahan pembimbing,
- menjaga larangan ihram jika sudah berihram,
- tidak tergesa-gesa,
- mengingat bahwa perjalanan ini adalah ibadah, bukan sekadar perjalanan logistik.
Penutup
Safar haji adalah ibadah sejak langkah pertama. Ia dimulai bukan ketika jamaah melihat Ka’bah, tetapi sejak ia meluruskan niat, keluar dari rumah, membaca doa safar, menjaga shalat, menahan lisan, bersabar di perjalanan, dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Seorang jamaah haji yang berilmu akan melihat seluruh perjalanan sebagai ladang ibadah. Bandara menjadi tempat melatih sabar. Pesawat menjadi tempat berdzikir. Antrean menjadi tempat menahan ego. Rombongan menjadi tempat belajar akhlak. Kelelahan menjadi jalan menuju pahala.
Maka, jangan hanya siapkan koper. Siapkan hati.
Jangan hanya hafal jadwal. Pahami tuntunan.
Jangan hanya ingin sampai ke Tanah Suci. Inginlah sampai kepada ridha Allah.
Karena haji yang indah bukan hanya haji yang lancar secara perjalanan, tetapi haji yang dijalani dengan ilmu, adab, kesabaran, dan tauhid dari awal hingga akhir.
MARI BERHAJI BERSAMA UHUD TOUR
Uhud Tour percaya bahwa perjalanan haji yang baik tidak dimulai dari bandara, tetapi dari ilmu, niat, dan adab yang benar sebelum jamaah meninggalkan rumah.
Karena itu, Uhud Tour tidak hanya membantu jamaah dalam urusan keberangkatan, hotel, transportasi, dan teknis perjalanan. Kami berusaha menghadirkan pendampingan yang lebih utuh: membimbing jamaah memahami fiqih safar, adab perjalanan, manasik haji, serta nilai tauhid yang menjadi ruh dari seluruh ibadah.
Bersama Uhud Tour, safar haji bukan sekadar perjalanan menuju Makkah. Ia adalah perjalanan ibadah yang dijalani dengan ilmu, dituntun dengan sunnah, dan diarahkan untuk pulang membawa haji yang lebih bermakna.
Untuk konsultasi program haji, persiapan manasik, dan pendampingan perjalanan ibadah yang lebih terarah, hubungi tim Uhud Tour. Mari persiapkan safar haji dengan lebih matang, lebih tenang, dan lebih dekat kepada tuntunan Rasulullah ﷺ.





